Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

BAGAIMANAKAH HUKUM TIDUR SETELAH MASUK WAKTU SHALAT ?

Gambar
BAGAIMANAKAH  HUKUM TIDUR SETELAH MASUK WAKTU SHALAT ? يكره النوم بعد دخول الوقت الصلاة وقبل فعلها حيث الظن الإستيقاظ قبل ضيقه لعادة او لإيقاظ غيره له والا حرم النوم   الذي لم يغلب في الوقتجاهل   MAKRUH tidur setelah masuk waktu dan belum menunaikan shalat, dengan perkiraan akan terbangun seperti biasanya sebelum sempit waktu atau ada orang lain yang akan membangunkannya. Jika tidak maka HARAM tidur bila tidak ada perkiraan seperti tersebut. Referensi: l'anah Ath-Thalibin, Jld. 1, Hal. 120, Cet. Al-Haramain.

LARANGAN MENIKAHI WANITA NON-MUSLIM

Gambar
  BAGAIMANA HUKUM MENIKAHI WANITA NON-MUSLIM ?   ولا تنكحوا المشركت حتى يؤمن ... ولا تنكحوا المشركين حتى يؤمنوا "Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman... Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman...." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 221) TAFSIR دل قوله تعالى: (ولا تنكحوا المشركت حتى يؤمن) على حرمة نكاح المجوسيات والوثنيات   Ayat ini menunjukkan keharaman pernikahan laki-laki muslim dengan perempuan musyrik seperti pemyembah api dan berhala. وأما الكتابيات فيجوز نكاحهن لقوله تعالى في سورة المائدة ( وا لمحصنت من الذين أوتوا الكتب ..) أي العفيفات من أهل الكتاب، وهذا قول جمهور العلماء، وبه قال الأئمة الأربعة Adapun perempuan Ahli Kitab yaitu mereka yang menganut agama samawi (nasrani dan yahudi) yang terjaga dirinya dan juga beriman kepada Allah, maka bolehlah menikahi mereka sesuai surat Al-Maidah ayat 5,   "Dan ( dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang t...

HUKUM KENCING SAMBIL BERDIRI

Gambar
BAGAIMANAKAH HUKUM ORANG YANG KENCING SAMBIL BERDIRI ? ويكره أن يبول قائما من غير عذر لما روي عن عمر رضي الله عنه أنه قال: ما بلت قائما منذ أسلمت، ولا يكره ذلك للعذر لما روى (النبي صلى الله عليه وسلم أتى سباطة قوم فبال قائما لعذر) Makruh kencing sambil berdiri jika tanpa ‘UZUR, Berdasarkan perkataan Sahabat Umar radhiyallahu 'anhu: "Aku tidak pernah kencing dengan berdiri sejak aku masuk Islam ".Namun kencing sambil berdiri tidak dimakruhkan jika adanya 'UZUR, hal ini berdasarkan sebuah hadits "Nabi Muhammad mendatangi tempat pembuangan kotoran (milik) sekelompok kaum, lalu kencing sambil berdiri karena adanya 'UZUR". Note: Contoh 'UZUR’ Yaitu seperti adanya penyakit, luka dan lain-lain yang menyebabkan seseorang terasa berat untuk kencing sambil duduk. Referensi: Hasyiyah Al-Bujairimi 'Ala Al-Khatib, Hal. 196, Jld. 1, Cet. Dar Al-Fikri.

HUKUM KONSUMSI IKAN TANPA MEMBUANG KOTORANNYA

Gambar
BAGAIMANA HUKUM KONSUMSI IKAN TANPA MEMBUANG KOTORANNYA ? Boleh jika itu ikan kecil. Tidak boleh pada ikan yang besar. Ta'bir Kitab: وأما حكم الروث فيعفى عنه في السمك الصغير دون الكبير فلا يجوز أكله إذا لم ينزع ما في جوفه لامتزاج لحمه بفضلاته التي في باطنه بواسطة الملح. Adapun hukum kotoran pada ikan kecil itu dimaafkan kecuali pada ikan yang besar. Maka tidak boleh memakannya apabila isi perut atau kotorannya belum dikeluarkan karena dagingnya bercampur dengan kotoran yang ada di dalamnya melalui perantara garam saat diasinkan. Referensi: Nawawi Al-Bantani, Nihayatuzzain, Hal. 43, Jld. 1, Cet. Dar Al-Fikri.

HUKUM BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT

Gambar
  BAGAIMANA HUKUM BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT ? Hukum berjabat tangan adalah sunnah. Berjabat tangan yang dilakukan setelah shalat tidak ada dalilnya dalam Islam, namun tidak mengapa karena hal itu merupakan perkara yang baik. Ta'bir Kitab : وتسن المصافحة عند كل لقاء وأما ما أعتاده الناس من المصافحة بعد صلاة الصبح والعصر فلا أصلا له في الشرع على هذا الوجه ولكن لا بأس به فإن أصل المصافحة سنة وكونهم خصوصا ببعض الأحوال وفرطوا في أكثرها لا يخرج ذلك البعض عن كونه مشروعة فيه Disunnahkan berjabat tangan setiap kali berjumpa. Adapun berjabat tangan yang sudah menjadi tradisi manusia setelah shalat Shubuh dan Ashar maka tidak ada dasarnya dalam syariat Islam, akan tetapi tidak mengapa melakukannya, karena hukum dasar berjabat tangan adalah sunnah. Dan mereka yang mengkhususkannya pada sebagian keadaan dan mengabaikannya pada kebanyakan keadaan juga tidak pula keluar dari anjuran syariat. Referensi : Imam Nawawi, Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, Hal. 633, Jld. 4, Cet. Makta...